DUMAI – Ketegangan di depan gerbang utama PT Agro Murni, Kecamatan Sungai Sembilan, kian meruncing [PT AGRO MURNI]. Akibat pihak pimpinan perusahaan yang tak kunjung keluar menemui ratusan demonstran, massa aksi kini mulai mendirikan tenda-tenda darurat tepat di depan pintu masuk utama pabrik, Jumat siang (2/10/2026).
Tenda-tenda darurat ini dibangun menggunakan bahan terpal biru besar terpal yang sama yang mereka gunakan semalaman sebagai alas tidur di atas beton jalanan sejak Kamis pagi kemarin. Langkah ini menjadi simbol bahwa kaum pekerja siap melakukan pendudukan wilayah secara jangka panjang sampai piring nasi mereka dikembalikan.
Gerakan perlawanan ini merupakan bagian dari Dewan Pengurus Cabang Serikat Buruh Sejahtera Independen ’92 (DPC SBSI ’92) Kota Dumai di bawah komando Ketua Agoes Budianto, S.H.
Protes keras ratusan massa buruh ini dipicu oleh penutupan gerbang sepihak sejak Kamis (1/1/2026) pukul 06.00 WIB pagi kemarin. Padahal, berdasarkan giliran regulasi yang sah, Kamis pagi merupakan jadwal resmi bagi buruh Koperasi Jasa TKBM Pelabuhan Dumai untuk masuk bekerja. Manajemen diduga sengaja menggembok pagar bagi buruh resmi demi menyelundupkan kelompok lain (Koperasi Purwanto) yang tidak memiliki sertifikasi kompetensi resmi bongkar muat sejak subuh.
Di dalam Aksinya, DPC SBSI ’92 Dumai membeberkan tiga poin hukum utama:
- Legalitas Koperasi TKBM Existing: Menegaskan Koperasi TKBM Pelabuhan Dumai adalah wadah kemitraan existing yang sah secara hukum dan memenuhi seluruh regulasi di pelabuhan Dumai.
- Pelarangan Masuk Tanpa Alasan Jelas: Mengutuk tindakan sepihak manajemen PT Agro Murni yang menghalangi anggota buruh UUPJ-TKBM tanpa alasan hukum yang jelas pada jadwal kerja resmi mereka.
- Mengangkangi Surat Otoritas Pelabuhan: Menyatakan secara hitam di atas putih bahwa manajemen PT Agro Murni telah mengangkangi Surat KSOP Nomor: AL.026/1/6/KSOP.DMI/2026 tanggal 16 September 2026 tentang Himbauan Menjaga Kondusifitas, Kenyamanan dan Keamanan, yang merupakan produk implementasi langsung dari keputusan Rapat FORKOPIMDA Dumai.
Pantauan langsung di lapangan, suasana di sekitar truk komando makin solid. Sembari membentangkan spanduk bertuliskan “Kami Buruh NKRI Menolak Pembegalan Regulasi“, buruh mengikat ujung-ujung terpal ke tiang darurat untuk dijadikan atap pelindung dari terik matahari siang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada satu pun pihak manajemen PT Agro Murni yang keluar untuk menemui massa aksi. Pihak perusahaan terkesan masih bungkam dan menutup mata. Namun, dengan berdirinya tenda terpal tersebut, massa aksi menegaskan akan tetap tegar bertahan mengepung dan menduduki area depan pintu gerbang utama.
Imbas pendudukan gerbang yang kian permanen ini, urat nadi distribusi logistik lumpuh total. Puluhan armada truk tangki raksasa pengangkut CPO (Crude Palm Oil) terpantau terjebak kemacetan parah mengular panjang di sepanjang bahu jalan luar kawasan pabrik karena ketiadaan aktivitas bongkar muat resmi. Buruh bersumpah tidak akan membongkar tenda sebelum hak mereka dikembalikan seutuhnya berdasarkan regulasi ketenagakerjaan Republik Indonesia.












