Jeritan Warga Kampar! Quarry Diduga Picu Abrasi Parah, Jembatan Gantung Terancam Putus

PEKANBARU || Penolakan warga terhadap aktivitas quarry atau galian C di Dusun III Durian Tandang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, kian menguat. Masyarakat menilai aktivitas tambang tersebut telah memicu abrasi sungai yang mengancam keselamatan warga dan fasilitas umum.

Berdasarkan data warga, sekitar 95 persen masyarakat menolak keberadaan quarry di kawasan tersebut. Penolakan itu diperkuat dengan tanda tangan penolakan yang telah dikumpulkan dari 206 warga.

Warga mengaku mulai merasakan dampak abrasi sungai yang semakin parah sejak aktivitas quarry beroperasi. Kondisi itu menyebabkan jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses masyarakat kini mulai miring dan dikhawatirkan membahayakan warga yang melintas.

Selain mengancam akses masyarakat, abrasi juga dilaporkan menggerus sejumlah kebun sawit milik warga hingga longsor ke sungai. Bahkan, beberapa rumah penduduk kini berada sangat dekat dengan bibir sungai dengan jarak diperkirakan hanya sekitar satu meter.

“Dulu jarak rumah dengan sungai masih jauh, sekarang makin dekat. Kami takut kalau terus dibiarkan rumah warga bisa ikut longsor,” ujar salah seorang warga, Minggu (10/5/2026).

Warga menilai dampak yang ditimbulkan jauh lebih besar dibanding manfaat yang diterima masyarakat. Mereka khawatir abrasi terus meluas dan mengancam keselamatan warga serta fasilitas umum di dusun tersebut.

Menurut warga, jembatan gantung yang menjadi akses utama menuju kebun, sekolah hingga pusat aktivitas ekonomi kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Jika abrasi terus terjadi, akses masyarakat dikhawatirkan bisa terputus sewaktu-waktu.

Masyarakat Dusun III Durian Tandang meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum turun langsung meninjau kondisi di lapangan serta mengevaluasi aktivitas quarry yang diduga menjadi penyebab kerusakan lingkungan tersebut.

Warga berharap ada langkah cepat dari pihak terkait agar abrasi tidak semakin parah dan mengancam permukiman masyarakat. Mereka juga mendesak aktivitas quarry dihentikan.

“Sudah sebanyak 206 orang warga menandatangani bukti penolakan keberadaan quarry tersebut,” kata warga lainnya.(*Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP