PEKANBARU || Seorang perempuan di Kota Pekanbaru, Mutiara Rahma Yully atau akrab disapa Yaya, akhirnya buka suara mengungkap dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya selama bertahun-tahun. Kekerasan tersebut diduga dilakukan oleh suaminya, Muhammad Abdul Reza, dan terjadi secara berulang, bahkan saat korban tengah mengandung.
Kepada media, Yaya mengaku mengalami kekerasan fisik, psikis, hingga penelantaran ekonomi selama menjalani rumah tangga. Luka memar di tubuh, kepala bengkak, hingga luka di bibir atas disebut menjadi bukti nyata kekerasan yang dialaminya.
“Saya terlalu sering memilih diam. Saya berharap dia berubah, tapi yang terjadi justru kekerasan terus berulang,” ujar Yaya dengan suara bergetar.
Menurut pengakuan korban, kekerasan tidak berhenti meskipun ia dalam kondisi hamil. Bahkan, ia menduga kekerasan tersebut dilakukan dengan maksud agar kandungannya gugur.
“Saya dipukul saat hamil. Saya merasa diperlakukan seolah anak saya tidak diinginkan. Tapi atas izin Tuhan, anak saya tetap lahir,” ungkapnya.
Tekanan fisik dan psikis yang dialami korban selama kehamilan hingga usia kandungan delapan bulan berdampak serius pada kesehatannya. Stres berat yang dialami Yaya disebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ia melahirkan secara prematur.
Tak hanya kekerasan fisik dan psikis, Yaya juga mengungkap penelantaran ekonomi dalam rumah tangga. Ia mengaku menjadi tulang punggung keluarga, bahkan sempat bekerja ke Malaysia demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Semua saya yang tanggung. Biaya hidup, kebutuhan rumah tangga, sampai biaya dia melamar pekerjaan. Bahkan ketika dia sudah bekerja, tetap saya yang menanggung,” jelasnya.
Lebih memilukan, Yaya mengaku uang miliknya kerap diambil tanpa izin dan diduga digunakan untuk judi online, yang semakin memperparah tekanan batin yang ia alami sebagai istri dan calon ibu.
Setelah perceraian, Yaya menyebut mantan suaminya tidak menjalankan kewajiban menafkahi anak, baik secara materi maupun perhatian.
“Sekarang kami sudah berpisah, tapi anak tidak dinafkahi. Saya berjuang sendiri sebagai ibu,” katanya lirih.
Kasus ini kembali menjadi cermin kelam masih maraknya kekerasan terhadap perempuan, khususnya dalam lingkup rumah tangga. Yaya berharap kisahnya menjadi peringatan bahwa diam bukan solusi, dan perempuan berhak hidup aman, bermartabat, serta bebas dari kekerasan.
“Saya bicara bukan untuk membuka aib. Saya hanya tidak ingin ada perempuan lain yang mengalami hal seperti saya,” pungkasnya.(*Red)












