MEDAN || Sekretaris Jenderal Satgas Inti Prabowo (SIP), Edison Marbun, mengecam keras dugaan praktik perambahan hutan yang terjadi di Desa Lobu Huala dan Desa Hasang, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara, Senin (26/1/2026).
Edison menyatakan keprihatinan mendalam karena dugaan perambahan tersebut terjadi di tengah kondisi Sumatera Utara yang baru saja dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Menurutnya, tindakan itu tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mencederai rasa kemanusiaan.
“Perambahan hutan di saat masyarakat masih berjuang menghadapi dampak bencana adalah tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan dan di luar nalar,” tegas Edison Marbun dalam keterangannya.
Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi salah satu faktor utama maraknya perambahan hutan, sehingga pemerintah pusat diminta turun tangan langsung melakukan evaluasi terhadap pejabat yang memiliki kewenangan pengawasan kawasan hutan.
Edison juga mengungkapkan titik koordinat lokasi yang diduga menjadi area perambahan, yakni Latitude 2.368518 dan Longitude 99.542787. Berdasarkan laporan yang diterimanya, aktivitas di lokasi tersebut masih berlangsung hingga saat ini.
Lebih lanjut, ia menduga adanya keterlibatan oknum pejabat yang melakukan pembiaran, sehingga praktik perambahan hutan terus terjadi tanpa penindakan serius.
“Kami menduga ada pembiaran yang disengaja. Karena itu, kami mendesak Kepolisian dan TNI segera melakukan investigasi menyeluruh dan menangkap seluruh pihak yang terlibat,” ujarnya.
Secara tegas, Edison Marbun meminta Kejaksaan Agung RI, Panglima TNI, Kapolri, Menteri Kehutanan, serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera mengambil langkah hukum tegas atas dugaan perusakan kawasan hutan tersebut.
Ia menambahkan, Presiden RI Prabowo Subianto tidak pernah mentolerir praktik perusakan hutan dalam bentuk apa pun, terlebih saat masyarakat tengah menghadapi bencana alam.
“Penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu demi menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen yang diduga menurunkan alat berat di lokasi perambahan masih terus diupayakan untuk dikonfirmasi guna memperoleh keterangan resmi.(*Red – Tim)












