PEKANBARU, RiauBerantas.com – Maraknya penggunaan aplikasi pencari jodoh di era digital memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menemukan pasangan hidup, memperluas pergaulan, hingga mencari teman berbagi cerita. Namun, di balik kemudahan tersebut, pengguna perlu mewaspadai ancaman love scamming atau penipuan berkedok cinta yang dapat menimbulkan kerugian materi maupun tekanan emosional.
Pemimpin Redaksi media hallobintang.com, Leli Maslina, SH, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam membangun hubungan melalui dunia maya. Menurutnya, keinginan untuk mendapatkan pasangan hidup merupakan hal yang wajar, tetapi jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki niat tidak baik.
Leli, yang merupakan alumni Universitas Andalas (Unand) angkatan 2003 dan mantan staf pendidik, menilai bahwa literasi digital serta kemampuan mengenali perilaku manipulatif menjadi hal penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Ia mengingatkan bahwa komunikasi intens melalui aplikasi pencari jodoh, WhatsApp, panggilan video, bahkan pertemuan langsung, tidak serta-merta membuktikan ketulusan seseorang.
“Jangan mudah menilai keseriusan seseorang hanya dari perhatian, rayuan, atau janji manis yang disampaikan. Dalam mencari pasangan hidup, kita perlu melihat konsistensi sikap, kejujuran, tanggung jawab, serta bagaimana seseorang menghargai batasan pribadi kita,” demikian pesan Leli,Sabtu 17/10/26.
Lima Hal yang Perlu Diwaspadai Saat Mencari Jodoh
1. Kenali Karakter dan Keseriusan Sejak Awal
Tahap awal perkenalan merupakan kesempatan untuk mengenali karakter seseorang melalui cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain.
Seseorang yang memiliki niat baik semestinya mampu membangun komunikasi secara sopan, menghargai privasi, serta tidak memaksakan kehendak.
Sebaliknya, perilaku merendahkan, melecehkan, memaksa meminta foto pribadi, atau membuat lawan bicara merasa tidak nyaman patut diwaspadai.
Meski demikian, karakter seseorang tidak dapat dinilai hanya dari satu percakapan. Diperlukan waktu untuk melihat konsistensi perilaku serta kesesuaian antara perkataan dan tindakan.
2. Jangan Terlena Rayuan dan Janji Pernikahan
Modus romance scam umumnya memanfaatkan kedekatan emosional untuk membangun kepercayaan korban. Pelaku dapat memberikan perhatian berlebihan, melontarkan kata-kata romantis, bahkan menjanjikan pernikahan meskipun hubungan baru terjalin beberapa hari.
Bagi seseorang yang sedang kesepian atau mendambakan pendamping hidup, perhatian tersebut mungkin terasa istimewa. Namun, ungkapan cinta tidak selalu menjadi bukti ketulusan.
Leli mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan kepercayaan hanya karena seseorang pandai merangkai kata-kata.
“Kenali seseorang secara bertahap. Jangan sampai keinginan untuk segera mendapatkan pasangan membuat kita mengabaikan tanda-tanda yang sebenarnya sudah terlihat sejak awal,” pesannya.
3. Waspadai Panggilan Mesra dan Ajakan Membangun Usaha Bersama
Dalam proses pendekatan, panggilan mesra seperti suami istri, Mama Papa, Aby dan Umy, atau sebutan lainnya bisa muncul ketika kedua pihak mulai merasa dekat.
Panggilan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya niat buruk. Namun, kewaspadaan diperlukan apabila kedekatan yang terbangun dengan cepat mulai dimanfaatkan untuk meminta bantuan materi, pengorbanan berlebihan, atau keterlibatan dalam rencana usaha yang tidak jelas.
Janji membangun rumah tangga dan kehidupan bersama juga tidak boleh menjadi alasan untuk menyerahkan uang, memberikan pinjaman, atau melakukan transaksi keuangan tanpa pertimbangan matang.
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling mengenal tanpa tekanan.
Keseriusan tidak perlu dibuktikan dengan memenuhi seluruh permintaan pasangan. Sebaliknya, komitmen semestinya terlihat melalui tanggung jawab, keterbukaan, dan kesediaan menghormati keputusan masing-masing.
4. Kenali Hubungan yang Menguras Materi dan Pikiran
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah hubungan yang mulai didominasi permintaan dan tuntutan sepihak.
Seseorang mungkin terus meminta bantuan keuangan, menuntut pasangannya selalu tersedia, atau memanfaatkan hubungan untuk kepentingan pribadi. Ketika permintaannya ditolak, ia justru menuduh pasangannya tidak mencintai atau tidak serius menjalin hubungan.
Pola semacam ini dapat memicu tekanan emosional dan mengganggu keseimbangan kehidupan sehari-hari.
Leli menilai masyarakat perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya menghilangkan kemandirian seseorang.
Mencari pasangan bukan berarti harus mengorbankan seluruh waktu, materi, pekerjaan, dan ketenangan pikiran demi memenuhi keinginan orang lain.
5. Perhatikan Pola Perilaku, Bukan Lamanya Hubungan
Perilaku manipulatif tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Ada pihak yang membangun kepercayaan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum mulai mengajukan permintaan tertentu.
Karena itu, lamanya hubungan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran ketulusan seseorang.
Pengguna perlu memperhatikan pola perilaku, seperti cerita yang terus berubah, identitas yang tidak jelas, permintaan uang berulang kali, serta kecenderungan menghindar ketika diminta memberikan penjelasan.
Apabila menemukan tanda-tanda tersebut, pengguna sebaiknya mengambil jarak, menghentikan transaksi yang mencurigakan, dan meminta pendapat keluarga atau teman yang tepercaya.
Literasi Digital Menjadi Benteng Perlindungan
Leli menegaskan, masyarakat tidak perlu takut menggunakan aplikasi pencari jodoh. Teknologi tetap dapat menjadi sarana positif untuk memperluas pergaulan dan menemukan pasangan dengan tujuan hidup yang sejalan.
Namun, pengguna harus tetap menjaga informasi pribadi, tidak membagikan kode OTP maupun kata sandi, serta tidak mudah mengirimkan uang kepada orang yang baru dikenal tanpa melakukan verifikasi secara memadai.
Jika berencana bertemu langsung dengan seseorang yang dikenal melalui aplikasi, pilih tempat umum dan informasikan rencana pertemuan kepada keluarga atau teman tepercaya.
Apabila menemukan indikasi penipuan, pengguna disarankan menyimpan bukti percakapan, profil akun, serta bukti transaksi untuk keperluan pelaporan kepada platform terkait atau pihak berwenang.
Sebagai Pemimpin Redaksi hallobintang.com, Leli mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membangun hubungan di tengah perkembangan teknologi digital.
“Mencari jodoh bukan sekadar menemukan seseorang yang mampu membuat kita merasa dicintai, tetapi menemukan orang yang benar-benar menghargai, jujur, dan bertanggung jawab. Jangan biarkan kesepian membuat kita kehilangan kewaspadaan,” pesannya.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat membutuhkan waktu, kejujuran, komunikasi terbuka, dan komitmen yang dibuktikan melalui tindakan nyata.
Cinta semestinya menghadirkan rasa aman, kepercayaan, dan sikap saling menghargai, bukan tekanan, kerugian materi, ataupun manipulasi emosional.












