Kelompok KKN 68 Universitas Muhammadiyah Riau Dukung Pendekar Kayangan Tuah Nagori Raih Peringkat 8 di Tepian Lubuk Sobae Baserah

KUANSING — Kemeriahan dan antusiasme tinggi menyelimuti perhelatan tradisi pacu jalur di Tepian Lubuk Sobae, Baserah, yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agustus 2026. Dalam ajang bergengsi ini, Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 68 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Desa Pembatang turut hadir memberikan dukungan penuh kepada tim Pendekar Kayangan Tuah Nagori yang berlaga.

​Sejak hari pertama perlombaan, suasana di tepian sungai tampak tumpah ruah oleh ribuan masyarakat dan pendukung yang memadati lokasi untuk menyaksikan pertandingan sekaligus membakar semangat jalur kebanggaan mereka.

​Sepanjang rangkaian lomba yang berjalan ketat dan kompetitif, Pendekar Kayangan Tuah Nagori menunjukkan daya juang tinggi serta kekompakan yang solid dari seluruh anak pacu. Kehadiran mahasiswa KKN 68 UMRI di tengah-tengah penonton turut menambah energi positif bagi tim dalam menghadapi setiap putaran perlombaan.

​Setelah melalui persaingan sengit melawan berbagai jalur tangguh dari berbagai daerah, Pendekar Kayangan Tuah Nagori akhirnya sukses mengamankan peringkat ke-8. Capaian ini dinilai sebagai hasil yang membanggakan dan patut diapresiasi atas kerja keras serta dedikasi seluruh pihak yang terlibat.

​Bagi mahasiswa KKN 68 UMRI Desa Pembatang, keterlibatan ini bukan sekadar agenda pendukung, melainkan wujud nyata kebersamaan dengan masyarakat lokal. Kehadiran mereka di tengah warga menegaskan komitmen mahasiswa pengabdian untuk ikut serta merawat dan melestarikan warisan budaya kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi.

​Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan momen kebersamaan antara anak pacu, masyarakat, pendukung, dan mahasiswa KKN. Kendati finish di peringkat ke-8, semangat kebersamaan dan sportivitas yang ditunjukkan Pendekar Kayangan Tuah Nagori diharapkan mampu menjadi motivasi untuk tampil lebih gemilang pada ajang-ajang mendatang.

​Melalui keikutsertaan ini, Kelompok KKN 68 UMRI Desa Pembatang berharap kecintaan terhadap budaya daerah terus terjaga. Sebab, pacu jalur lebih dari sekadar perlombaan kecepatan di atas air—ia adalah simbol kebersamaan, persatuan, dan identitas budaya lokal.

Sumber: Kelompok 68 Mahasiswa KKN UMRI 2026 / Universitas Muhammadiyah Riau — https://umri.ac.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP