PEKANBARU — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekanbaru menegaskan pentingnya membangun gerakan kolektif dalam merespons krisis ekologi di Provinsi Riau. Penegasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik dan Mimbar Gagasan bertajuk “Krisis Ekologi Riau: Meneguhkan Nalar Kritis, Membangun Aksi Transformatif HMI” yang diselenggarakan pada Jumat, 16 Oktober 2026, di Leng Coffee Panam, Pekanbaru.
Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri dengan perspektif yang saling melengkapi, yakni Shanti Rahmayanti, S.T., dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru; Dian Hardiani dari Dinas Kesehatan; serta Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si, aktivis sekaligus pakar lingkungan.
Diskusi tersebut menjadi ruang untuk membedah persoalan ekologi dari berbagai sudut pandang, mulai dari tantangan pengelolaan lingkungan perkotaan, dampak kabut asap terhadap kesehatan manusia, hingga pentingnya mengidentifikasi akar persoalan dan membangun gerakan bersama untuk mendorong penyelesaian krisis ekologi di Riau.
Dialog Ekologis: Persoalan Lingkungan Perkotaan Membutuhkan Aksi Kolaboratif
Dalam pemaparannya, Shanti Rahmayanti, S.T., membawakan materi mengenai dialog ekologis dengan menyoroti berbagai tantangan lingkungan hidup di Kota Pekanbaru. Persoalan tersebut mencakup peningkatan timbulan sampah, keterbatasan fasilitas pengolahan, penataan ruang perkotaan, berkurangnya daerah resapan air, persoalan drainase, hingga kualitas udara dan perubahan iklim.
Materi yang disampaikan menunjukkan bahwa persoalan lingkungan perkotaan tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perubahan penggunaan lahan, serta perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan. Dalam materi tersebut juga dipaparkan bahwa timbulan sampah di Pekanbaru mencapai sekitar 1.300 ton per hari, disertai tantangan dalam pemilahan sampah dari sumber dan optimalisasi fasilitas pengolahan.
Shanti juga menekankan pentingnya peran pemuda dalam membangun aksi transformatif melalui edukasi berkelanjutan, inovasi ramah lingkungan, penguatan komunitas, serta kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta.
Bagi HMI Cabang Pekanbaru, perspektif tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan ekologi membutuhkan keterlibatan publik yang berkelanjutan. Gerakan lingkungan tidak cukup dilakukan melalui kampanye sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam kerja kolektif yang konsisten, terukur, dan mampu mendorong perubahan perilaku maupun kebijakan.
Anatomi Medis Kabut Asap: Krisis Ekologi Juga Menyangkut Keselamatan Manusia
Sementara itu, Dian Hardiani dari Dinas Kesehatan membawakan materi mengenai anatomi medis kabut asap, yang memperluas pembahasan krisis ekologi dari persoalan lingkungan menuju dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Perspektif kesehatan menjadi penting karena kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang atau gangguan aktivitas sehari-hari. Paparan asap kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan, sehingga membutuhkan perhatian serius dalam upaya pencegahan dan perlindungan masyarakat.
Melalui pembahasan ini, krisis ekologi ditempatkan sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan keselamatan masyarakat. Penanganan karhutla karena itu tidak semestinya hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga perlu memperhatikan pencegahan, pengendalian sumber pencemaran, penyediaan informasi kualitas udara, dan perlindungan kesehatan masyarakat.
HMI Cabang Pekanbaru memandang bahwa perspektif medis harus menjadi bagian penting dalam evaluasi kebijakan lingkungan. Ketika kerusakan ekologis berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, maka penanganannya membutuhkan koordinasi lintas sektor dan langkah yang berorientasi pada perlindungan masyarakat.
Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si: Mengkaji Akar Persoalan dan Melanjutkan Gerakan Massa
Dalam diskusi tersebut, Dr. Elviriadi selaku aktivis dan pakar lingkungan menegaskan pentingnya mengkaji persoalan ekologi secara mendasar, bukan hanya melihat gejala yang muncul di permukaan. Persoalan lingkungan perlu dibedah melalui penalaran kritis untuk memahami akar masalah, faktor penyebab, serta tanggung jawab berbagai pihak dalam mendorong penyelesaiannya.
Sejalan dengan tema kegiatan, kajian ekologis tidak boleh berhenti pada pertukaran gagasan di ruang diskusi. Pengetahuan dan kesadaran kritis harus menjadi landasan bagi gerakan bersama yang mampu mengawal persoalan lingkungan secara lebih luas.
Dr. Elviriadi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun keterlibatan kolektif dalam memperjuangkan penyelesaian berbagai persoalan ekologi di Riau. Gerakan tersebut perlu dibangun melalui penguatan kesadaran publik, konsolidasi masyarakat sipil, keberanian menyampaikan kritik berbasis pengetahuan, serta dorongan terhadap kebijakan yang melindungi lingkungan dan kepentingan masyarakat.
Bagi HMI Cabang Pekanbaru, penegasan tersebut memperkuat pesan utama diskusi: krisis ekologi tidak cukup direspons dengan keprihatinan, pernyataan sikap, atau agenda seremonial. Diperlukan keberlanjutan gerakan yang mampu menghubungkan kajian, advokasi, pengawasan kebijakan, dan mobilisasi partisipasi masyarakat secara bertanggung jawab.
HMI: Dari Nalar Kritis Menuju Gerakan Transformatif
Ketua Umum HMI Cabang Pekanbaru, Raihan Darma Putra, melalui penyelenggaraan kegiatan ini menegaskan pentingnya menjadikan persoalan ekologi sebagai bagian dari agenda intelektual dan gerakan sosial mahasiswa. HMI perlu mengambil peran dalam membangun kesadaran kritis sekaligus mengorganisasi keterlibatan masyarakat untuk mendorong perubahan.
Diskusi publik ini juga menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai pengamat persoalan lingkungan, melainkan sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang memiliki tanggung jawab untuk mengkaji, mengkritisi, dan mengawal kebijakan publik.
Sementara itu, Ketua Pelaksana, Muhammad Irfan Zuhri, menempatkan kegiatan ini sebagai langkah untuk mempertemukan perspektif pemerintah, kesehatan, dan gerakan lingkungan dalam satu ruang dialog. Pertemuan berbagai perspektif tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan agenda advokasi dan aksi lingkungan yang lebih terarah.
HMI Cabang Pekanbaru menilai bahwa krisis ekologi Riau membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Penanganan karhutla, kabut asap, persoalan sampah, degradasi lingkungan, serta tantangan ekologis perkotaan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan akan tata kelola yang terbuka, pengawasan yang konsisten, penegakan aturan, dan partisipasi masyarakat.
Oleh karena itu, HMI Cabang Pekanbaru mendorong agar hasil diskusi ini ditindaklanjuti melalui kajian yang lebih mendalam, penguatan konsolidasi gerakan lingkungan, pendidikan publik, serta pengawalan terhadap kebijakan dan langkah penyelesaian yang dilakukan para pemangku kepentingan.
Melanjutkan Diskusi, Mengonsolidasikan Gerakan
HMI Cabang Pekanbaru menegaskan bahwa kegiatan ini bukan titik akhir, melainkan bagian dari upaya membangun gerakan ekologis yang berkelanjutan. Nalar kritis harus melahirkan keberanian untuk mengidentifikasi akar persoalan, sedangkan kesadaran kolektif harus diterjemahkan menjadi aksi yang terorganisasi.
HMI mendorong keterlibatan mahasiswa, komunitas lingkungan, akademisi, masyarakat, dan pemangku kebijakan untuk membangun agenda bersama dalam menyelesaikan persoalan ekologi di Riau. Gerakan tersebut harus tetap berpijak pada kajian yang dapat dipertanggungjawabkan, data yang terbuka, tuntutan yang jelas, serta langkah yang berorientasi pada keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Bagi HMI Cabang Pekanbaru, menjaga lingkungan bukan semata-mata urusan teknis atau tanggung jawab satu instansi. Ia merupakan persoalan bersama yang menuntut keberanian untuk mengoreksi keadaan, mengawal kebijakan, dan memperjuangkan perubahan.
Diskusi harus melahirkan kesadaran, kesadaran harus membangun konsolidasi, dan konsolidasi harus bergerak menuju aksi nyata.
HMI Cabang Pekanbaru berkomitmen untuk terus meneguhkan nalar kritis dan mendorong aksi transformatif sebagai bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan keadilan ekologis di Riau.












