Konferensi Insinyur ASEAN CAFEO 44 Bandung Gandeng 11 Negara Anggota

JAKARTA ,RiauBerantas.com – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) bersiap menggelar konferensi insinyur ASEAN CAFEO 44 Bandung pada 20–22 Oktober 2026 mendatang. Kepastian tersebut disampaikan usai kegiatan Young Engineers Festival (YEF) 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Perhelatan regional bergengsi ini diproyeksikan menghadirkan 600 hingga 800 lebih delegasi insinyur dari 11 negara anggota ASEAN, guna merumuskan arah industrialisasi berkelanjutan dan penguatan inovasi keinsinyuran kawasan.

Unjuk Keunggulan Industri Strategis Nasional

Penyelenggaraan CAFEO ke-44 mengusung pendekatan unik yang belum pernah diterapkan oleh negara penyelenggara sebelumnya. Panitia menyiapkan 17 working group, dengan 8 kelompok kerja di antaranya melakukan diskusi teknis langsung di pusat-pusat industri serta lembaga strategis Kota Bandung, seperti PT DI, PT Pindad, Bio Farma, Museum Geologi, PT KAI, hingga Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Para delegasi datang, berdiskusi, dan langsung melakukan technical visit ke lokasi produksi. Konsep ini belum pernah dilakukan negara lain, hanya kita yang menyelenggarakannya di Bandung,” ujar Ir. Santhi Serad, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., Chairperson of Committee CAFEO 44, kepada awak media di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Santhi menambahkan, pemanfaatan moda Kereta Cepat Whoosh dari Jakarta menuju Bandung turut dijadikan sarana membuktikan lompatan teknologi infrastruktur Indonesia kepada para tamu mancanegara.

Dorong Inovasi Insinyur Muda dan Batasi Ketergantungan AI

“Selain memamerkan kapasitas manufaktur, agenda bertema ” Shared Prosperity and Humanity through Inclusive and Sustainable Industrialization” ini menempatkan insinyur muda sebagai aktor utama transisi industri hijau (green jobs),” kata Ir. Rifqi Taufiqurrahman, S.T., M.T., CEM, Chairperson of the Young Engineers Festival 2026.

Mengingat letak geografis Indonesia di kawasan Pacific Ring of Fire, strategi kesiapsiagaan bencana turut menjadi materi pembahasan teknis di Museum Geologi.

Pengembangan SDM keinsinyuran ini diselaraskan pula dengan adopsi kecerdasan buatan (AI). PII menegaskan bahwa AI berfungsi sebatas alat bantu yang tidak boleh mengikis analisis kritis para praktisi keinsinyuran.

Sementara itu, Ir. Haudhi Ramdayuza, S.T., IPU., ASEAN Eng., Wakil Sekretaris Jenderal PII menjelaskan, AI itu sebagai teman, bukan pengganti otak manusia. Kita yang mengarahkan tools tersebut. Penggunaan AI tetap membutuhkan nalar kritis dan analisis, tidak bisa ditelan bulat-bulat.

Sejalan dengan hal tersebut, penguatan jaringan antarnegara menjadi kunci menghadapi disrupsi teknologi.

“Eranya hari ini adalah kolaborasi. Pekerjaan baru seperti green jobs membutuhkan kolaborasi lintas sektor keinsinyuran,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP